WhatsApp Image 2026-04-20 at 09.30.22.jpeg

Sabtu, 18 April 2026 08:27:00 WIB

0

Perempuan Hebat, Indonesia Kuat: Pesan Penguatan Peran Perempuan dalam Seminar DWP UIN Sunan Kalijaga

Penguatan peran perempuan dalam kehidupan sosial dan pembangunan bangsa menjadi sorotan utama dalam kegiatan Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menghadirkan Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Prof. Dr. Imam Machali, serta aktivis perempuan, Dr. Witriani, sebagai narasumber.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian syawalan, peringatan Hari Kartini, sekaligus seminar bertajuk “Penguatan Peran Perempuan dalam Pengembangan Diri dan Masyarakat: Refleksi Makna Spiritual Idul Fitri 2026” yang berlangsung pada Jumat (17/4/2026) di Ruang Pertemuan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang refleksi pasca-Idul Fitri, tetapi juga momentum meneguhkan kontribusi strategis perempuan dalam pengembangan diri dan masyarakat.

Sejak awal, suasana forum terasa hangat dan komunikatif. Moderator, Zia Muqowim membuka sesi dengan mengutip pernyataan Margaret Thatcher yang menegaskan bahwa perempuan bukan hanya kuat dalam gagasan, tetapi juga dalam aksi nyata. Kutipan tersebut menjadi pengantar yang relevan untuk menggarisbawahi peran perempuan sebagai aktor penting dalam berbagai lini kehidupan. 

Sementara itu, dalam paparannya, Prof. Imam Machali menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas perempuannya. 

Dengan gaya yang santai dan interaktif, ia mengajak peserta untuk memahami perbedaan antara seks dan gender. Menurutnya, seks merupakan kodrat biologis yang bersifat tetap, sementara gender adalah konstruksi sosial yang dapat berubah sesuai konteks ruang dan waktu. Dalam perspektif ini, perempuan tidak lagi terbatas pada peran domestik, melainkan memiliki peluang yang sama untuk berkiprah di ruang publik, termasuk dalam kepemimpinan.

Namun demikian, Prof. Imam juga mengingatkan adanya tantangan nyata yang masih dihadapi perempuan, salah satunya adalah beban ganda. Perempuan kerap dihadapkan pada tuntutan untuk menjalankan peran domestik sekaligus berkontribusi di ranah publik. Kondisi ini, menurutnya, memerlukan kesadaran bersama agar tercipta pembagian peran yang lebih adil dan proporsional dalam keluarga maupun masyarakat. 

Ia juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran gender sejak dini, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun komunitas. Dengan meningkatnya jumlah perempuan usia produktif dalam struktur demografi Indonesia, peran perempuan dinilai semakin strategis dalam menentukan arah pembangunan ke depan.

Sementara itu, Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Dr. Witriani yang dikenal sebagai akademisi di bidang gender dan budaya melengkapi perspektif tersebut dengan pendekatan yang lebih konseptual. Ia menekankan bahwa isu gender tidak sekadar persoalan peran, tetapi juga menyangkut relasi kuasa, akses terhadap sumber daya, serta keadilan sosial. Dalam konteks ini, penguatan kapasitas perempuan menjadi langkah penting untuk memastikan mereka tidak hanya hadir, tetapi juga memiliki posisi yang setara dalam proses pengambilan keputusan.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya pemberdayaan perempuan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi antara kesadaran individu, dukungan keluarga, serta kebijakan yang berpihak pada kesetaraan. Melalui forum seperti ini, DWP UIN Sunan Kalijaga tidak hanya menghadirkan ruang diskusi, tetapi juga mendorong transformasi cara pandang terhadap peran perempuan di tengah dinamika masyarakat modern.

Pada akhirnya, pesan yang mengemuka dalam kegiatan ini sederhana namun kuat, bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak. Ketika perempuan diberdayakan dan diberi ruang yang setara, maka bukan hanya individu yang tumbuh, tetapi juga masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.(humassk)