WhatsApp Image 2026-07-17 at 14.43.14.jpeg

Jumat, 17 Juli 2026 15:12:00 WIB

0

Memahami Makna Akreditasi Internasional, Saat Empat Prodi FST UIN Sunan Kalijaga Meraih Pengakuan ASIIN

Akreditasi kerap dijadikan penanda kualitas sebuah perguruan tinggi. Namun, tidak banyak yang benar-benar memahami apa makna di balik sebuah akreditasi internasional. Apakah sekadar sertifikat yang menambah prestise kampus, atau benar-benar menghadirkan perubahan dalam proses pendidikan?


Bagi perguruan tinggi, akreditasi internasional sesungguhnya merupakan proses untuk memastikan bahwa kualitas pendidikan terus berjalan sesuai standar yang diakui secara global. Yang dinilai bukan hanya dokumen atau administrasi, melainkan bagaimana mahasiswa belajar, bagaimana dosen mengajar, bagaimana kurikulum disusun, hingga bagaimana lulusan dipersiapkan agar memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Komitmen itulah yang kembali dibuktikan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Empat program studinya, yakni Matematika, Kimia, Biologi, dan Fisika, berhasil kembali memperoleh akreditasi internasional ASIIN (Accreditation Agency for Degree Programmes in Engineering, Informatics, Natural Sciences and Mathematics).

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Ir. Shofwatul 'Uyun, menjelaskan bahwa ASIIN dipilih karena memiliki fokus penilaian terhadap mutu program studi di bidang sains dan matematika secara komprehensif.

"Standar ASIIN menilai secara menyeluruh kualitas kurikulum, proses pembelajaran, kompetensi lulusan, tata kelola, serta sistem penjaminan mutu yang berkelanjutan," jelasnya.

Artinya, lanjut Prof Uyun, pengakuan internasional tersebut tidak hanya melihat hasil akhir berupa lulusan, tetapi juga memastikan setiap tahapan pendidikan berjalan dengan baik. Kurikulum harus relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, proses pembelajaran harus efektif, dosen memiliki kompetensi sesuai bidangnya, fasilitas akademik mendukung proses belajar, dan seluruh penyelenggaraan pendidikan dievaluasi secara berkala agar terus berkembang.


Menurut Prof. Uyun, ketika sebuah program studi dinyatakan memenuhi standar ASIIN, ini sebagai bentuk pengakuan bahwa kualitas pendidikan pada program tersebut telah memenuhi standar internasional.

"Pengakuan ini mencakup kurikulum yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, proses pembelajaran yang berkualitas, dosen yang kompeten, fasilitas yang memadai, sistem penjaminan mutu yang berkelanjutan, serta lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia akademik dan industri," ujarnya.

Pengakuan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman belajar mahasiswa sehari-hari. Di ruang kelas, misalnya, pendekatan pembelajaran diarahkan pada student-centered learning, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi aktif berdiskusi, bekerja sama, melakukan eksplorasi, dan menyelesaikan persoalan nyata.

Di saat yang sama, lanjut Prof. Uyun, dosen berperan sebagai fasilitator yang merancang pengalaman belajar agar setiap mahasiswa mampu mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Pendekatan ini dikenal sebagai Outcome-Based Education (OBE), yaitu sistem pembelajaran yang berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan.

"Akreditasi ASIIN mendorong pembelajaran yang lebih berpusat pada mahasiswa. Dosen tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga merancang pengalaman belajar yang lebih aktif, kolaboratif, dan berbasis pemecahan masalah. Mahasiswa didorong untuk lebih kritis, mandiri, dan mampu menerapkan pengetahuan serta keterampilannya dalam menghadapi tantangan nyata," katanya.

Budaya mutu itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa akreditasi internasional tidak dapat dipandang sebagai tujuan akhir. Sebaliknya, ia menjadi mekanisme yang mendorong program studi untuk terus mengevaluasi diri, memperbarui kurikulum, meningkatkan kompetensi dosen, memperkuat fasilitas akademik, serta membangun keterlibatan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Bagi mahasiswa, dampaknya hadir dalam bentuk pengalaman belajar yang terus berkembang. Mahasiswa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan yang disusun berdasarkan standar internasional, memiliki peluang lebih luas dalam berbagai kerja sama akademik, serta dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia akademik maupun industri.

Pada akhirnya, keberhasilan empat program studi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga mempertahankan akreditasi internasional ASIIN bukan semata tentang pengakuan, melainkan tentang kepercayaan. Mahasiswa memperoleh kepastian belajar dalam ekosistem akademik yang terus bertumbuh. Bagi calon mahasiswa, capaian ini menjadi referensi penting dalam memilih program studi yang memiliki komitmen kuat terhadap mutu.

Sementara bagi pemerintah, dunia usaha, industri, dan mitra akademik, pengakuan tersebut mempertegas bahwa UIN Sunan Kalijaga konsisten menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang dibangun melalui standar pendidikan berkelas internasional. Dengan demikian, akreditasi internasional menjadi pijakan untuk terus menghadirkan pendidikan yang relevan, akuntabel, dan berdampak bagi masyarakat.(humassk)