UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat. Semangat tersebut tecermin dari kiprah Muhamad Fahry Azizurahman (Fahry), mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM), yang berhasil meraih berbagai penghargaan nasional melalui gerakan sosial yang diinisiasinya untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Mahasiswa semester empat asal Bengkulu tersebut merupakan pendiri Generasi Anti Kekerasan (GAK) Indonesia, sebuah gerakan yang lahir dari kepeduliannya terhadap meningkatnya berbagai bentuk kekerasan di kalangan remaja, termasuk Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE). Berawal dari sebuah inisiatif kecil, gerakan tersebut kini telah berkembang menjadi jaringan nasional dengan 36 cabang di berbagai daerah di Indonesia.
Komitmen Fahry dalam membangun ruang yang aman bagi generasi muda mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan bergengsi. Ia dinobatkan sebagai penerima DPD RI Award 2025 kategori Tokoh Masyarakat Inspiratif, masuk dalam daftar 30 Jajaran Muda Inspiratif Indonesia versi Pijar Foundation, serta terpilih sebagai Young Changemaker Ashoka Indonesia 2023. Kiprah tersebut semakin diperkuat melalui pendirian Yayasan Jaringan Aman Generasi Muda (Jaga Foundation) yang menargetkan memberikan manfaat kepada sedikitnya 100.000 penerima manfaat melalui berbagai program edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi Fahry, berbagai pencapaian tersebut tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran yang dijalaninya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lingkungan akademik kampus membentuk cara pandangnya dalam melihat persoalan sosial secara komprehensif melalui paradigma integrasi-interkoneksi, yakni mempertemukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman untuk melahirkan solusi yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam studinya di Program Studi Psikologi, Fahry mempelajari berbagai teori mengenai kepemimpinan, regulasi emosi, hingga coping mechanism. Pengetahuan tersebut kemudian diimplementasikan dalam kerja-kerja sosial yang berpijak pada nilai kemanusiaan, empati, dan keberpihakan terhadap kelompok rentan.
“Sebagai Kalijaga Muda, kita harus menginterkoneksikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Hal ini membentuk diri kita menjadi pribadi yang berintegritas, tetap taat pada norma keagamaan sekaligus menerapkan ilmu pengetahuan untuk aksi kemanusiaan,” ujar Fahry.
Menurutnya, konsep integrasi-interkoneksi yang menjadi kekhasan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bukan sekadar wacana akademik, melainkan cara berpikir yang mendorong mahasiswa untuk mampu menjawab persoalan masyarakat melalui pendekatan multidisipliner. Nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun kepemimpinan sosial yang inklusif sekaligus memperkuat semangat Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
Perjalanan membangun gerakan sosial tentu tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, dinamika organisasi, hingga membangun kepercayaan masyarakat. Namun, dukungan dosen, program studi, serta lingkungan akademik UIN Sunan Kalijaga menjadi modal penting bagi Fahry untuk terus berkembang sekaligus menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
Kisah Fahry menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kepemimpinan. Sejalan dengan visi UIN Sunan Kalijaga untuk mencerdaskan, mendamaikan, dan menyejahterakan, mahasiswa didorong agar mampu mengaktualisasikan ilmu pengetahuan menjadi aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Menutup kisahnya, Fahry mengajak mahasiswa untuk berani mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan di lingkungan sekitar. Menurutnya, perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah, membangun kolaborasi, dan menjaga ketulusan dalam berkarya.
“Menjaga asa dan semangat untuk membawa perubahan adalah hal terpenting. Jangan pernah ragu untuk bersinar dan memberi manfaat, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat luas,” tutupnya.
Prestasi Muhamad Fahry Azizurahman menjadi bukti bahwa UIN Sunan Kalijaga tidak hanya mencetak lulusan yang berdaya saing, tetapi juga melahirkan generasi pembawa perubahan yang mampu mengintegrasikan keilmuan, nilai keislaman, dan kepedulian sosial untuk menjawab tantangan bangsa. (humassk)