1002354542.jpg

Minggu, 16 Agustus 2026 21:10:00 WIB

0

Hidupkan Tradisi Malam Tirakatan, UIN Sunan Kalijaga Refleksikan Makna Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Generasi Masa Kini

Malam menjelang peringatan kemerdekaan di Yogyakarta memiliki tradisi tersendiri. Warga berkumpul, memanjatkan doa, mengenang kembali perjuangan para pendahulu bangsa. Tradisi yang dikenal sebagai “Malam Tirakatan” itu menjadi ruang untuk mensyukuri kemerdekaan sekaligus merefleksikan tanggung jawab generasi hari ini dalam melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa.


Tradisi tersebut juga dihidupkan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sivitas akademika berkumpul dalam malam tirakatan di Masjid UIN Sunan Kalijaga, Minggu malam (16/8/2026), menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, hadir jugaRektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, hadir bersama para Wakil Rektor, Ketua Senat, Kepala Biro, Dekan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.


Rektor dalam pidatonya menyampaikan, bahwa  pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan bangsa sekaligus mengingat kembali pengorbanan yang mengantarkan Indonesia menjadi negara merdeka.

“Pertemuan ini merupakan salah satu wujud rasa syukur kita bahwa Indonesia yang kita cintai, negeri tempat kita tinggal dan mengabdikan diri, telah mencapai usia 8i tahun,” ujarnya.


Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk memaknai kemerdekaan bukan hanya sebagai capaian sejarah, tetapi sebagai amanah yang perlu terus dijaga dan diisi. Doa dan ikhtiar bersama diperlukan agar kemerdekaan dapat terus dipertahankan dan bangsa Indonesia mampu menorehkan prestasi di berbagai bidang kehidupan.


Refleksi itu, kata Prof.Noorhaidi, penting karena kemerdekaan Indonesia lahir dari perjalanan panjang. Para tokoh bangsa dan founding fathers memperjuangkan kemerdekaan melalui berbagai jalur, mulai dari diplomasi dan politik hingga perjuangan di bidang ekonomi dan jalur lainnya.

Perjuangan tersebut tidak berhenti setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia setelah proklamasi menghadapi perlawanan dari berbagai penjuru negeri hingga penyerahan kedaulatan pada 1949. Ribuan nyawa menjadi taruhan dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.

“Karena itu, malam tirakatan menjadi kesempatan untuk menempatkan sejarah tidak sekadar sebagai ingatan masa lalu, tetapi sebagai pijakan untuk melihat tanggung jawab generasi sekarang,” ungkapnya.

Rektor mengajak semua sivitas akademika memanjatkan doa bagi para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya. Doa menjadi bagian dari penghormatan kepada mereka yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Kita juga berdoa agar kita yang hidup pada saat ini mampu melanjutkan cita-cita proklamasi kemerdekaan yang telah dirintis para pendahulu bangsa. Karena itu, mari kita isi kemerdekaan ini dengan berupaya sebaik-baiknya dan memberikan kontribusi terbaik di bidang kita masing-masing,” pesannya.

Pesan itu juga menempatkan perguruan tinggi pada tanggung jawab yang lebih luas. Kampus tidak cukup hanya mencetak orang pintar, tetapi juga perlu melahirkan generasi yang mampu membaca persoalan, bersuara ketika kepentingan publik dipertaruhkan, dan menghadirkan perubahan.

Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar soal penguasaan pengetahuan. Ia juga membentuk cara seseorang mengambil sikap dan menggunakan kemampuannya untuk memberi manfaat. Sebab, Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mampu menggunakan kepintarannya untuk kemaslahatan bersama.

Gagasan tersebut beririsan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari masa depan Indonesia. Bagi perguruan tinggi, hal itu berarti terus membangun lingkungan pendidikan yang mendorong lahirnya manusia berilmu, berdaya pikir, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.

Tirakatan di Masjid UIN Sunan Kalijaga pun menjadi ruang untuk mempertemukan rasa syukur, ingatan sejarah, dan tekad untuk melanjutkan pengabdian. Kemerdekaan tidak berhenti pada peristiwa 17 Agustus 1945, tetapi terus menemukan maknanya melalui apa yang dilakukan generasi hari ini.

Dalam konteks itu, menjadi “merdeka” adalah memastikan bahwa ilmu, pendidikan, dan pengabdian yang dijalankan hari ini ikut membawa Indonesia bergerak menuju masa depan yang lebih berkeadaban.(humassk)