1002420390.jpg

Jumat, 04 September 2026 17:24:00 WIB

0

Temu Wali, UIN Sunan Kalijaga Tunjukkan Kesiapan Prodi Kedokteran Sambut Angkatan Pertama

Sebanyak 50 mahasiswa Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga memulai perjalanan sebagai angkatan pertama. Bersamaan dengan itu, ada harapan orang tua yang dititipkan kepada fakultas untuk mendampingi mereka menjalani pendidikan kedokteran..

Harapan tersebut menjadi salah satu pesan dalam Temu Wali Mahasiswa Prodi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga, Jumat (4/9/2026), di Teatrikal Lantai 4 Gedung Fakultas Kedokteran. Pertemuan itu mempertemukan prodi dengan para orang tua untuk menjelaskan proses pendidikan, sistem pembelajaran, peraturan akademik, hingga berbagai fasilitas yang akan menunjang perjalanan mahasiswa.


Dekan Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga, dr. Murtafiqoh Hasanah, mengatakan proses pendidikan calon dokter sesungguhnya telah dimulai sejak mahasiswa mengikuti seleksi masuk. Seleksi, menurut dia, tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga memperhatikan kemampuan dasar, integritas, serta profil kepribadian dan kapasitas psikologis calon mahasiswa.


“Sesungguhnya, 50 mahasiswa baru Fakultas Kedokteran adalah anak-anak hebat bagi kami. Bersama mereka, ada harapan dari para orang tua yang dititipkan kepada kami,” katanya

Karena itu, dr. Fika sapaan akrabnya, berharap proses pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab fakultas. Dukungan orang tua tetap dibutuhkan agar mahasiswa dapat menjalani proses tersebut dengan baik.

Membentuk dokter dengan perspektif yang utuh


Sebagai bagian dari UIN Sunan Kalijaga, pendidikan kedokteran yang dikembangkan fakultas memiliki karakter yang tidak hanya bertumpu pada penguasaan ilmu medis. Fakultas membawa visi menjadi institusi yang unggul dan terkemuka dalam pemaduan serta pengembangan keislaman dan ilmu kedokteran untuk peradaban.

Sementara pada sisi keilmuan, lanjut dr. Fika, fakultas juga mengembangkan perhatian pada upaya preventif dan promotif gangguan muskuloskeletal, khususnya pada kelompok lanjut usia.

Gangguan muskuloskeletal, jelasnya, berkaitan dengan mobilitas manusia. Pada kelompok lansia, terganggunya mobilitas dapat berdampak pada kondisi kesehatan secara lebih luas. Karena itu, upaya menjaga kebugaran dan mobilitas lansia menjadi bagian penting dari pendekatan preventif dan promotif yang dikembangkan..


Profil lulusan yang dikembangkan Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga juga mengacu pada kompetensi dokter yang dikembangkan World Health Organization (WHO). Mahasiswa dipersiapkan memiliki kompetensi sebagai care provider, yakni mampu memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Selain itu, mahasiswa dibekali kemampuan sebagai decision maker yang mampu mengambil keputusan klinis secara tepat dengan menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme. Kompetensi sebagai communicator juga menjadi bagian penting, sehingga lulusan mampu membangun komunikasi efektif dengan pasien, keluarga, maupun masyarakat. 

Pada saat yang sama, mereka diarahkan memiliki kapasitas sebagai community leader, yakni mampu berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan memberikan kontribusi bagi komunitas..

Belajar melalui persoalan dan pengalaman

Profil dokter tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sistem pembelajaran yang disiapkan fakultas berdasarkan aturan yang berlaku.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga, dr. Adina Silviasari, mengatakan mahasiswa akan mengikuti beragam metode pembelajaran yang dirancang untuk membangun kemampuan mereka dalam memahami sekaligus menerapkan pengetahuan. Metode tersebut meliputi kuliah interaktif, Problem Based Learning (PBL), pembelajaran keterampilan klinis, Team Based Learning (TBL), Project Based Learning (PJBL), hingga Self Directed Learning (SDL).

Dalam kuliah interaktif, mahasiswa akan belajar bersama dokter yang memiliki keahlian pada bidang masing-masing. Sementara melalui PBL, mahasiswa dihadapkan pada suatu persoalan untuk diidentifikasi, dianalisis, dan dicari penyelesaiannya.

“Bagaimana menyelesaikan sebuah masalah, itu yang dilatih. Satu tutor mendampingi sekitar 10 mahasiswa, dan tutor sudah mengikuti ToT,” tuturnya

Pembelajaran keterampilan klinis juga menjadi bagian dari pendidikan mahasiswa. Mereka akan berlatih berbagai keterampilan yang dibutuhkan ketika berhadapan dengan pasien, dengan pendampingan instruktur yang juga telah mengikuti pelatihan.

“Untuk menjadi dokter, mereka harus kompeten. Bukan sekadar nilainya berapa, tetapi betul-betul kemampuan untuk melakukan sebuah layanan dan tindakan,” ujarnya.

Karena itu, mahasiswa akan menjalani berbagai asesmen dan evaluasi selama proses pendidikan untuk memastikan kompetensi yang telah dicapai sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya hingga memperoleh kompetensi sebagai dokter. Untuk mendukung perjalanan akademik tersebut, fakultas juga menyiapkan dosen pembimbing akademik dengan masing-masing DPA memegang 5 mahasiswa.

Usai sesi penjelasan, para orang tua diajak melihat langsung fasilitas pembelajaran yang telah disiapkan Fakultas Kedokteran. Dipimpin Kaprodi Program Sarjana Kedokteran, dr. Erna, mereka memasuki ruang CBT, ruang OSCE, serta sejumlah laboratorium yang digunakan untuk mendukung pembelajaran kedokteran.

Di ruang CBT, deretan komputer tertata rapi untuk mendukung pembelajaran dan asesmen berbasis komputer. Sementara di laboratorium anatomi, orang tua melihat berbagai model anatomi yang memungkinkan mahasiswa mempelajari struktur tubuh manusia secara lebih visual. Sejumlah bagian anatomi juga dilengkapi informasi yang dapat diakses melalui pemindaian kode sehingga mahasiswa dapat memperoleh penjelasan mengenai bagian yang sedang dipelajari.

Fasilitas serupa terlihat di laboratorium lain, dengan peralatan yang disesuaikan dengan karakter pembelajarannya, termasuk laboratorium biokimia, fisiologi, mikrobiologi dan parasitologi, histologi dan patologi anatomi, farmakologi, biomolekuler, hingga kesehatan masyarakat. Di ruang OSCE, tersedia ruang-ruang simulasi dengan manekin dan berbagai peralatan medis untuk mendukung latihan keterampilan klinis mahasiswa.

Kesiapan pembelajaran tidak berhenti pada fasilitas yang tersedia di lingkungan fakultas. Untuk menunjang pendidikan klinis, fakultas juga menyiapkan jejaring fasilitas kesehatan sebagai tempat mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran di lapangan. Jejaring tersebut mencakup berbagai rumah sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta serta puskesmas yang bekerja sama dengan dinas kesehatan. RSUP dan RSPAU dr. Soeradji menjadi bagian dari jejaring utama yang disiapkan untuk mendukung proses pembelajaran klinis mahasiswa

Bagi Amelia, salah satu orang tua mahasiswa, melihat langsung fasilitas tersebut membuatnya semakin yakin dengan keputusan mendaftarkan anaknya di Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga.

Meski anaknya akan menjadi bagian dari angkatan pertama, ia mengaku tidak merasa ragu.

“Saya tidak merasa ragu sedikit pun mendaftarkan anak saya di PTKIN nomor satu ini. Sarana dan prasarananya sangat memadai, SDM-nya juga oke,” kata Amelia.

Menurut dia, ada hal lain yang membuat pendidikan kedokteran di UIN Sunan Kalijaga menarik. Perpaduan ilmu keislaman dan kedokteran dinilainya dapat menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk berkembang menjadi dokter yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan integritas.

Bagi Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga, 50 mahasiswa tersebut merupakan awal dari perjalanan panjang. Karena itu, Temu Wali Mahasiswa menjadi ruang untuk membangun kesamaan pandangan. (humassk)