Di antara lembaran koran lama, foto hitam putih, maklumat, dan majalah mahasiswa, tersimpan jejak perguruan tinggi Islam yang tumbuh menjadi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jejak itu kini dikumpulkan kembali, sepotong demi sepotong, untuk mengajak publik menyusuri satu dekade awal perjalanan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN).
Untuk merangkai kembali kepingan sejarah tersebut, Tim Arsiparis UIN Sunan Kalijaga menggelar rapat persiapan pameran bertajuk “RINTISAN: “Jejak yang Tak Terhapus” Lintas Waktu 1951–196: Membaca Ulang Akar Identitas, di Ruang Rapat PAU lantai dua, Senin (7/9/2026). Pameran direncanakan berlangsung pada 21–25 September 2026 di selasar lantai satu Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU) UIN Sunan Kalijaga.
Arsiparis Ahli Muda yang juga merupakan Kepala Unit Arsip UIN Sunan Kalijaga, Wahyu Setianingsih, S.H., M.M., mengatakan bahwa pameran akan berfokus pada perjalanan PTAIN sepanjang 1951–1961, dengan prolog sejarah yang ditarik sejak 1945.
Figur yang akrab disapa Aning tersebut, menjelaskan bahwa rentang waktu tersebut dipilih untuk memperlihatkan bagaimana cita-cita menghadirkan pendidikan tinggi Islam di Indonesia mulai dirintis, diperdebatkan, hingga diwujudkan. Sejarah Sekolah Tinggi Islam (STI), Universitas Islam Indonesia (UII), dan kelahiran PTAIN akan disajikan agar pengunjung tidak sekadar melihat benda-benda lama, tetapi juga memahami konteks di baliknya.
Bahan pameran dihimpun dari sejumlah lembaga dan pusat dokumentasi, antara lain Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Monumen Pers Nasional, Kedaulatan Rakyat, dan Jogja Library. Penelusuran juga dilakukan terhadap arsip Kementerian Penerangan dan koleksi Pakualaman.
“Dari pencarian tersebut, kami menemukan beragam pemberitaan mengenai PTAIN, foto-foto bersejarah, koran, maklumat, pidato pengukuhan guru besar pertama, nama-nama mahasiswa pertama, hingga majalah mahasiswa yang merekam dinamika pemikiran pada masanya,” ujarnya.
Upaya menemukan arsip tidak selalu berakhir di ruang penyimpanan resmi. Sebagian jejak justru tersebar dalam koleksi pribadi, perpustakaan, fakultas, dokumentasi keluarga, hingga ingatan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan para perintis PTAIN.
Di antara bagian penting yang akan dihadirkan ialah jejak Prof. K.H. Muh. Adnan dan Prof. Dr. H. Muchtar Jahja sebagai rektor pertama dan kedua. Keduanya memiliki peran penting dalam meletakkan dasar perjalanan institusi yang kini berkembang menjadi UIN Sunan Kalijaga.
Jejak kedua tokoh tersebut tidak hanya akan diperkenalkan melalui foto dan catatan biografis. Tim juga menelusuri karya, pemikiran, dokumen, serta cerita yang tersimpan dalam ingatan keluarga dan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan keduanya. Hasil penelusuran itu akan menjadi bagian dari materi pameran.
Dalam pencarian jejak Prof. Adnan misalnya, Aning mencerikan bagaimana tim berhasil berkomunikasi dengan salah seorang anggota keluarganya yang kini tinggal di Amerika Serikat. Komunikasi tersebut dilakukan untuk menggali perjalanan hidupnya sekaligus menelusuri kemungkinan keberadaan karya, buku, foto, dan arsip pribadi yang masih tersisa.
Penelusuran serupa dilakukan terhadap kiprah Prof. Dr. H. Muchtar Jahja. Tim berupaya mengumpulkan foto, karya, dokumen, dan informasi mengenai berbagai peristiwa akademik yang melibatkan rektor kedua PTAIN tersebut. “Dari pihak keluarga, kami juga memperoleh informasi bahwa Prof. Muchtar pernah terlibat sebagai promotor dalam pengukuhan doktor honoris causa dari Al-Azhar,” ungkapnya.
Pameran “RINTISAN” tidak dirancang sebagai deretan dokumen yang dipajang tanpa konteks. Setiap arsip akan disusun dalam alur yang membantu pengunjung memahami hubungan antara satu peristiwa dan peristiwa lainnya.
Kepala Subbagian Rumah Tangga UIN Sunan Kalijaga, Suswini, menekankan bahwa pameran tersebut menjadi penanda penting karena merupakan pameran arsip pertama yang diselenggarakan UIN Sunan Kalijaga. Pameran itu juga menjadi yang pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Pengunjung akan memulai perjalanan melalui lini masa yang menghadirkan peristiwa-peristiwa penting sejak 1945. Dari sana, alur bergerak menuju perjalanan STI dan UII, kelahiran PTAIN pada 1951, serta perkembangannya hingga 1961.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju lembaran-lembaran surat kabar yang merekam kelahiran dan perkembangan PTAIN. Pemberitaan media pada masa itu akan membantu pengunjung melihat bagaimana kehadiran perguruan tinggi Islam dibicarakan dalam ruang publik.
Foto-foto lama selanjutnya menghadirkan kembali wajah para perintis dan suasana akademik pada masa awal. Salah satu foto monumental yang akan ditampilkan memperlihatkan Presiden Soekarno ketika memberikan kuliah di hadapan sivitas akademika PTAIN.
Sementara itu, majalah mahasiswa akan membuka jendela menuju kehidupan kampus pada masa tersebut. Melalui artikel-artikel di dalamnya, pengunjung dapat membaca gagasan, kegelisahan, dan semangat generasi pertama yang tumbuh bersama PTAIN.
Untuk kelengkapan pameran arsip, Pranata Humas Ahli Madya UIN Sunan
Kalijaga, Dra. R.T.M. Maharani, mengusulkan agar pencarian foto dan dokumen
juga melibatkan fakultas serta para senior UIN Sunan Kalijaga. Keterlibatan
mereka diharapkan dapat mempertemukan tim dengan dokumentasi yang belum
tersimpan dalam koleksi resmi.
Persiapan pameran ini menjadi kerja bersama jajaran Unit Arsip UIN Sunan Kalijaga. Selain Aning juga ada Yudhi Risti Purnomo, S.AP. sebagai Wakil Kepala Unit, sementara Nurul Fatwa Wati, A.Md. menjalankan peran sebagai Sekretaris. Kerja pengarsipan juga ditopang Muhammad Mahyudin, S.H., M.A., Ahmad Nasif Al Fikri, S.Ag., M.M., Miftakhul Intan Naimah, S.Pd., dan Tantri Yuniarti, A.Md. pada Divisi Pelayanan Kearsipan.
Pada Divisi Pengelolaan Arsip Dinamis, terdapat Gunadi, S.H., M.H. dan Ida Lusi, S.Pd. Sementara pengelolaan arsip statis dilakukan Lusiana, S.E., M.M. bersama Banny Suryani, A.Md., KL. Adapun Divisi Pembinaan Kearsipan melibatkan Siti Zainia Faridha, S.Si., M.Si., CTT., CGAM, Anita Sofiyati, S.Ag., dan Yuni Sulistyowati, A.Md.
Pameran arsip yang akan dilaksanakan ini pada akhirnya bukan sekadar usaha mengenang masa lalu. Arsip menjadi jalan untuk memahami bahwa UIN Sunan Kalijaga hari ini tumbuh dari gagasan, keberanian, karya, dan kerja panjang para perintis pendidikan tinggi Islam.
Melalui koran yang menguning, pidato yang tersimpan, foto dua rektor pertama, wajah para mahasiswa generasi awal, perjalanan itu akan dihadirkan kembali. Bukan untuk berhenti pada nostalgia, melainkan untuk mempertemukan generasi hari ini dengan akar sejarah institusinya, sebuah rintisan yang jejaknya tidak terhapus.(humassk)