Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendorong mahasiswa untuk mengambil peran aktif dalam menghadapi krisis iklim melalui Seminar “Youth Climate Action: Mahasiswa sebagai Penggerak Solusi di Tengah Krisis Iklim”, Kamis (24/9/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai di Hall FDK UIN Sunan Kalijaga ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-56 FDK dan Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Seminar menghadirkan Ikrom Musthofa, S.Si., M.Sc., dosen Departemen Environmental Engineering Universitas Islam Indonesia, serta Siti Aminah, M.Si., Pembina Climate Warrior, untuk berbagi perspektif mengenai literasi, aksi, dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Pembina Climate Warrior, Siti Aminah, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari pengalaman mahasiswa dalam menjalankan Project Eco Cupir, yaitu pengolahan minyak jelantah menjadi sabun cuci piring ramah lingkungan. Inisiatif tersebut berhasil meraih penghargaan Best Collaboration pada final Green Impact Project 2026 di FEB UNS Surakarta pada 22 Agustus 2026.
Menurut Siti, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari persoalan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, capaian Climate Warrior tidak semestinya berhenti sebagai prestasi satu kelompok, tetapi perlu dibagikan agar dapat menjadi inspirasi dan praktik baik bagi mahasiswa lainnya.
“Kami ingin pengalaman itu tidak berhenti di satu tim, tetapi menular ke mahasiswa lain. Seminar ini menjadi ruang berbagi semangat dan praktik baik aksi iklim,” ujar Siti.
Ia menjelaskan, mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang memiliki posisi strategis dalam menghadapi krisis iklim. Selain menjadi generasi yang akan merasakan dampak perubahan iklim dalam jangka panjang, mahasiswa memiliki energi, jejaring, dan kemampuan komunikasi yang dapat digunakan untuk menggerakkan perubahan.
Bagi mahasiswa FDK, menurut Siti, kepedulian terhadap lingkungan juga dapat ditempatkan sebagai bagian dari dakwah. Menjaga lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu, kesadaran mengenai lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata bersama masyarakat.
Siti juga menekankan bahwa mahasiswa dapat memulai aksi dari lingkungan terdekat, seperti mengelola sampah dan limbah rumah tangga, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendampingi masyarakat, serta menyuarakan isu lingkungan melalui media sosial. Menurutnya, keberhasilan aksi akan lebih kuat apabila dilakukan melalui kolaborasi dengan masyarakat, bukan secara individual.
Pengalaman tersebut telah diwujudkan melalui Project Eco Cupir yang dimulai di TBM Delima, Bantul, pada 6 Juli 2026. Sepanjang Juli hingga Agustus 2026, Climate Warrior melakukan pendampingan bersama warga TBM Delima dan Kelompok Kalimaya di Bantul, termasuk ibu rumah tangga dan Karang Taruna, dengan pendekatan learning by doing.
Sementara itu, Ikrom Musthofa menekankan bahwa krisis iklim perlu dipahami secara lebih luas. Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kemanusiaan, keadilan sosial, moral, dan keagamaan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki literasi iklim sekaligus kemampuan mengomunikasikan isu tersebut kepada masyarakat.
“Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki kemampuan menerjemahkan persoalan yang kompleks menjadi pesan yang dapat dipahami masyarakat. Mereka dapat berperan sebagai komunikator publik, jurnalis, pendakwah, pembuat konten, peneliti komunikasi, dan fasilitator komunitas,” jelas Ikrom.
Ia mendorong mahasiswa untuk memulai aksi dari lingkungan terdekat, seperti mengurangi sampah dan plastik sekali pakai, mengelola sisa makanan, melakukan edukasi lingkungan, serta memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan iklim. Menurutnya, pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi aksi yang terukur dan berkelanjutan.
Dalam konteks FDK, kemampuan komunikasi mahasiswa menjadi modal penting untuk menjembatani pengetahuan ilmiah, nilai-nilai keislaman, dan pengalaman masyarakat. Mahasiswa dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran publik sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Kegiatan ini juga memperkuat gerakan Climate Warrior yang telah dikembangkan di lingkungan FDK. Dukungan kelembagaan fakultas serta LPPM melalui Tim SDGs UIN Sunan Kalijaga turut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan dan praktik terkait lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui Seminar Youth Climate Action, FDK UIN Sunan Kalijaga menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang pembelajaran dan partisipasi mahasiswa dalam merespons tantangan krisis iklim. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami persoalan perubahan iklim, tetapi juga mampu mengambil peran melalui literasi, aksi, komunikasi, dan kolaborasi bersama masyarakat.
Siti Aminah menegaskan bahwa perubahan tidak harus selalu dimulai dari langkah besar. “Jangan menunggu besar untuk bergerak. Solusi krisis iklim bisa dimulai dari dapur, dari sampah di sekitar kita, dan dari kepedulian kecil yang dilakukan bersama-sama. Menjaga bumi adalah ibadah,” pungkasnya.
Seminar ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi FDK dalam menguatkan peran pendidikan tinggi sebagai ruang lahirnya gagasan dan gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung keberlanjutan lingkungan.(humassk)