WhatsApp Image 2026-10-05 at 17.38.22.jpeg

Senin, 05 Oktober 2026 08:27:00 WIB

0

Lingkar Seroja UIN Sunan Kalijaga Bahas Peran PIK dalam Menjawab Persoalan Remaja dan Mahasiswa

Persoalan yang dihadapi remaja dan mahasiswa semakin beragam, mulai dari kesehatan reproduksi, kesehatan mental, relasi sosial, hingga perencanaan pendidikan dan masa depan. Di tengah situasi tersebut, keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja menjadi penting bukan sekadar sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai ruang bagi generasi muda untuk mendapatkan edukasi, berdiskusi, dan memperoleh dukungan dari sesama.


Kebutuhan untuk terus mengembangkan kapasitas tersebut mendorong UKM PIK-M Lingkar Seroja UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bertukar pengalaman dengan PIK-R Rasendriya Universitas Tidar Magelang. Pertemuan yang berlangsung di Gedung DPMP4KB Kota Magelang, Sabtu (3/10/2026), menjadi ruang bagi kedua organisasi untuk sama-sama mengkaji praktik pengelolaan organisasi sekaligus mendiskusikan tantangan dalam menjalankan fungsi PIK bagi generasi muda.

Ketua Pelaksana kegiatan, Anggita, mengatakan penguatan kapasitas PIK perlu dilakukan melalui ruang belajar bersama antarlembaga. Menurut dia, pengalaman masing-masing organisasi dapat menjadi sumber pembelajaran untuk melihat kembali bagaimana program dirancang, dijalankan, dan disesuaikan dengan kebutuhan remaja dan mahasiswa.

“PIK bukan hanya tempat mendapatkan informasi dan konseling sebaya, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan pengembangan diri bagi generasi muda. Karena itu, penting bagi kami untuk terus belajar dan bertukar pengalaman agar program yang dijalankan benar-benar relevan dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus kedua organisasi memaparkan profil, arah gerak, serta program kerja masing-masing. Pertukaran tersebut tidak berhenti pada pengenalan kegiatan, tetapi menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana setiap organisasi merespons kebutuhan anggotanya dan menjalankan peran sebagai wadah informasi serta konseling sebaya.

Dari sesi tersebut, kedua organisasi dapat melihat adanya persamaan sekaligus perbedaan dalam pengelolaan PIK. Perbedaan karakter organisasi dan lingkungan kampus menjadi bagian dari pembelajaran untuk memahami bahwa program pemberdayaan remaja tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang seragam. Program perlu disesuaikan dengan karakter anggota, persoalan yang dihadapi, serta lingkungan sosial tempat organisasi berada.

Pembahasan kemudian diperdalam melalui Focus Group Discussion (FGD). Anggita  menceritakan, bagaimana para pengurus bertukar pengalaman mengenai pengelolaan organisasi, pelaksanaan program kerja, serta tantangan yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan PIK. Forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan praktik yang telah berjalan sekaligus melihat kemungkinan pengembangan program melalui pengalaman organisasi lain.

Bagi PIK-M Lingkar Seroja, pertukaran semacam ini penting karena keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dilaksanakan. Kapasitas pengurus, kemampuan membaca kebutuhan sasaran, pengelolaan organisasi, dan keberanian mengevaluasi program menjadi bagian penting agar PIK dapat terus berfungsi sebagai ruang yang dekat dengan persoalan generasi muda.

Pertemuan tersebut juga membuka peluang hubungan yang lebih luas antara PIK-M Lingkar Seroja dan PIK-R Rasendriya

“Harapannya, pertemuan ini tidak berhenti pada studi banding, tetapi bisa menjadi awal untuk saling belajar dan berkolaborasi untuk memberikan manfaat yang lebih luas,” katanya.

Bagi kedua organisasi, penguatan PIK pada akhirnya bukan semata persoalan keberlangsungan organisasi mahasiswa. Lebih jauh, kapasitas organisasi perlu diarahkan untuk memastikan generasi muda memiliki akses terhadap informasi yang tepat, ruang berdiskusi yang aman, serta dukungan untuk menghadapi persoalan yang mereka temui dan mengambil keputusan terkait masa depannya.

Melalui pertukaran pengalaman tersebut, PIK-M Lingkar Seroja UIN Sunan Kalijaga dan PIK-R Rasendriya Universitas Tidar menempatkan organisasi sebagai ruang belajar yang terus berkembang. Pengalaman satu sama lain menjadi bahan untuk mengevaluasi praktik yang telah berjalan sekaligus mencari cara agar peran PIK semakin dekat dengan kebutuhan remaja dan mahasiswa.(humassk)