UIN SUKA

Rabu, 25 Maret 2026 08:09:00 WIB

0

LEBARAN : MEULI Hate, BAJU Diri ( Dr. Asep Jahidin Koordinator PLD UIN Sunan Kalijaga)

Tadarus Difabel *Minggu 76*

Malam itu dingin sekali… tapi suasana yang kami ciptakan telah sukses merebus suhu di daerah Garut itu menjadi hangat. 

Angin beku *dari kaki Gunung Papandayan seperti tidak punya ampun.* Kami duduk melingkar di ruang tengah rumah panggung kayu sederhana yang besok siangnya akan jadi pusat aktivitas… malam harinya kami sulap jadi ruang diskusi yang hangat

Itu adalah suasana puluhan tahun lalu* saat saya mengikuti kegiatan luar kampus bersama para sahabat... Kopi panas berulang kali diseduh.

Kami masih mahasiswa S1 waktu itu… seperti biasanya isi pikiran kami banyak tanya, sedikit jawaban.

Di tengah lingkaran, ada Abah… *Saya tidak ingat lagi nama aslinya*

*Kami memanggilnya begitu.* Ia seorang yang begitu dikenal oleh teman-teman gerakan di ITB Bandung pada masa itu…

Seorang aktivis. Budayawan lokal. Tapi bagi kami, dia lebih seperti orang tua yang tidak pernah lelah memancing cara berpikir… *semacam Socrates begitulah* 

Di antara seribu tema yang meledak di kepala kami … Tiba-tiba Abah bertanya pada malam itu…

*“Naon ari Lebaran teh?”*

(Apa itu Lebaran?)

Kami saling lihat.

Jawaban kami tumpah bervariasi 

“Ya… hari raya, Bah.”

“kumpul keluarga.”

“Ya maaf-maafan…”

Abah diam sebentar. Lalu nadanya naik sedikit, seperti sengaja meresonansi dinginnya lembah gunung Papandayan itu:

*“Lebaran téh… meuli hate, baju diri!”*

Kami terdiam.

“Meuli… hati?” salah satu dari kami mengulang pelan. *(Meuli dalam bahasa Sunda artinya membeli)*

Abah tersenyum tipis… saat itu diskusi kami banyak berlangsung dalam bahasa Sunda… kira-kira begini ucapnya…

“Iya. Lebaran itu bukan soal baju baru… tapi soal kamu beli hati untuk dirimu sendiri. Baju diri itu bukan kain… tapi hati yang kamu pakai untuk menutupi dan menghiasi siapa dirimu sebenarnya.”

Sunyi…

Hanya suara angin dan gigi yang sesekali berderak.

Salah satu teman bertanya lanjut:

“Bah… maksudnya gimana? Masa hati bisa dibeli?”

Abah tertawa kecil.

*“Bisa… tapi bukan pakai uang.”*

“Terus pakai apa?”

*“Pakai kesadaran...”*

Kami mulai mendekat, seperti takut kehilangan satu kalimat pun… lingkaran makin merapat

Abah melanjutkan:

“Kamu puasa sebulan… itu bukan sekadar nahan lapar. Itu latihan. Latihan supaya kamu sadar… hatimu itu selama ini kotor atau tidak.”

“Kalau kotor?” tanya saya.

_*”ya kamu bersihkan… Itulah ‘meuli hate’.”*_

“Terus ‘baju diri’?”

Abah menatap kami satu per satu.

*“Kalau hatimu sudah kamu beli…sudah kamu sadari, sudah kamu bersihkan…itu yang jadi pakaianmu.* Bukan lagi ego, bukan lagi kesombongan...” Itulah *baju diri*

Kami langsung hening.

Saya memberanikan diri bertanya…

“Jadi Lebaran itu… bukan soal kembali ke fitrah saja, Bah?”

Abah menggeleng pelan.

“Fitrah itu bukan sesuatu yang datang otomatis.”

“Terus?”

“Fitrah itu ya jalan yang kamu pilih. Kamu perjuangkan. Kamu sadari.”

Angin semakin dingin. Tapi obrolan terasa semakin hangat.

Abah meledakkan kopi panas dengan kalimat yang sampai hari ini masih terasa…

“Lebaran itu bukan momen… tapi keputusan.”

“Kamu mau tetap pakai ‘baju lama’… ego, prasangka, rasa paling benar…”

“Atau kamu benar-benar ‘meuli hate’… lalu menjadikannya baju untuk dirimu yang baru.”

*Hari ini, Lebaran kembali datang… saya menulis tadarus ini juga di daerah Garut* tapi kali ini saya sedang nginep di rumah Saudara, di kaki Gunung Mandalawangi, karena ada silaturahmi keluarga besar di rumah ini

*seperti kembali ke masa itu…*

Kembali ke cerita itu. Pertanyaannya tidak ringan:

Apakah kita benar-benar sudah “meuli hate”?

Atau kita hanya sibuk “meuli baju”?

Dalam konteks difabel, pertanyaan ini menjadi lebih dalam:

Apakah kita sudah mengganti “baju diri” kita menjadi hati yang setara, yang memanusiakan, yang tidak lagi menempatkan siapa pun di bawah?

Lebaran akhirnya bukan tentang apa yang kita kenakan di tubuh,

tapi tentang apa yang kita kenakan di dalam diri.

Dan mungkin…

Itulah yang dimaksud Abah sejak awal…

*Lebaran téh… meuli hate, baju diri.*

Tadarus ini ditulis di kaki gunung Mandalawangi, Lebaran hari ketiga

*Garut,* 23 Maret 2026