UIN SUKA

Senin, 06 April 2026 09:27:00 WIB

0

KESEHATAN MENTAL DI TENGAH PERANG: Belajar dari Orang IRAN Menemukan Kekuatan Dirinya Dalam Konflik Global : Dr. Asep Jahidin Ilmu Kesejahteraan Sosial Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga

Tadarus Difabel Minggu 78

Hari-hari ini di tengah padatnya kesibukan, saya cukup rajin mengikuti perkembangan perang yang melibatkan Amerika, Israel dan Iran, melalui media sosial maupun lewat berita resmi lainnya… Dalam suasana seperti perang besar yang saat ini sedang meledak di Timur Tengah itu, maupun juga dalam “perang-perang kecil” yang setiap hari terjadi dalam diri setiap orang di mananapun, manusia selalu diuji pada titik yang paling dalam, yaitu cara berpikir, cara merasa, dan cara bertahan

656Menariknya kita juga bisa melihat bagaimana gambaran kesehatan mental seseorang melalui cara dia merespon perang itu. Termasuk di media sosial, seluruh dunia bisa membaca bagaimana misalnya para pejabat Iran, Amerika maupun Israel membahasa dan sekaligus menampilkan wajah mereka di depan perang narasi di media… kita bisa memantau diantara mereka siapa saja yang  tenang dan siapa saja yang meledak-ledak penuh amarah dalam beragam respon

Perang selalu menghadirkan luka. Tidak hanya pada tubuh, tetapi juga pada jiwa manusia. Dalam suasana yang penuh ketidakpastian, kehilangan, dan ketakutan, kesehatan mental menjadi sesuatu yang paling rentan, sekaligus paling menentukan dalam meraih kemenangan…

Kondisi mental sangat penting, dalam tradisi Islam yang juga menjadi ideologi sebagian besar orang Iran dalam menghadapi perang ini, bahkan diperingatkan oleh Nabi Muhammad dalam sebuah hadis terkenal bahwa perang melawan diri sendiri adalah perang yang paling berat

Kita tentu bisa belajar dari Amerika dan Israel tapi dalam tulisan ini Di sisi lain, kita juga bisa belajar dari bagaimana Iran menghadapi peperangan ini…

Jika kita menengok sejarah, perang telah menjadi salah satu latar belakang lahirnya Ilmu Kesejahteraan Sosial. Ketika dunia dilanda perang besar, muncul kesadaran bahwa manusia tidak cukup hanya diselamatkan secara fisik. Mereka juga perlu dipulihkan secara sosial dan psikologis. Dari situ lahir berbagai praktik pertolongan sosial, rehabilitasi, hingga sistem perlindungan yang hari ini kita kenal sebagai bagian penting dari kesejahteraan sosial.

Artinya, di balik kehancuran perang, manusia belajar satu hal penting bahwa luka batin membutuhkan penanganan yang sama seriusnya dengan luka fisik. Kita mungkin sudah terbiasa untuk menghubungkan kesehatan mental seseorang dengan permasalahan yang dialaminya

 Namun, ada hal penting harus dipahami bahwa kesehatan mental tidak selalu ditentukan oleh besar-kecilnya masalah yang dihadapi. Banyak orang hancur bukan karena masalah yang dialaminya, tetapi karena dia tidak memiliki cara untuk menghadapi nya. Sebaliknya, ada pula mereka yang tetap utuh, bahkan tumbuh, justru karena dia berhasil melewati berbagai kesulitan besar dalam hidupnya, bukan tidak punya masalah…

Di sinilah letak kuncinya bahwa kesehatan mental bukan tentang peristiwa apa yang terjadi pada kita, tetapi ini tentang bagaimana kita memaknai dan merespons peristiwa tersebut. Bagi sebagian orang, tekanan melahirkan keputusasaan sementara bagi yang lain, tekanan justru melahirkan ketangguhan… dalam konteks perang ini, kita bisa melihat bangsa Iran di tengah perang dan puluhan tahun embargo bisa menjadi salah satu contohnya disamping bangsa lainnya

Lalu bagaimana jika kesehatan mental ini dilihat dari isu inklusi, bagi difabel, akses terhadap layanan kesehatan mental masih menjadi tantangan. Apalagi dalam situasi perang atau krisis.

Karena itu, memahami kesehatan mental dalam perspektif inklusif menjadi sangat penting. Kita tidak bisa lagi melihatnya sebagai urusan individu semata. Ia adalah hasil dari interaksi antara pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta sistem yang ada di sekitarnya. Setiap manusia membutuhkan tempat untuk merasa didengar, diterima, dan tidak dihakimi. Tanpa ruang ini, luka batin cenderung dipendam, dan pada akhirnya membesar dalam diam. Tidak semua luka harus dihapus. Sebagian luka justru menjadi sumber kekuatan, jika kita mampu memaknainya dengan tepat.

Sekuat apapun seseorang, tidak ada kesehatan mental yang benar-benar berdiri sendiri. Kita semua saling membutuhkan. Keluarga, teman, komunitas, dan institusi memiliki peran besar dalam menjaga kewarasan bersama.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang hidup tanpa masalah. Ia adalah kemampuan untuk tetap berdiri, bahkan ketika hidup tidak baik-baik saja.

Perang telah memberikan kehancuran. Dari kehancuran itu, manusia belajar tentang apapun. Dan mungkin, di situlah satu-satunya letak harapan kita berada... Belajar

Akhirnya, memahami kesehatan mental adalah memahami manusia itu sendiri, dalam rapuhnya, dalam kuatnya, dan dalam perjuangannya untuk tetap hidup dengan makna.

Perang dan Damai. Yogyakarta, 6 April 2026