WhatsApp Image 2026-02-13 at 15.35.09.jpeg

Kamis, 12 Februari 2026 18:32:00 WIB

0

MSAA FUPI UIN Sunan Kalijaga Gelar “Expert Talk about Migration and Religion”, Hadirkan Sosiolog Universitas Bielefeld Jerman

Magister Studi Agama-Agama (MSAA) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar seminar internasional bertajuk “Expert Talk about Migration and Religion” pada Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung ini bertempat di Smart Room FUPI lantai 2 dan menghadirkan akademisi internasional sebagai pembicara utama.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FUPI Robby H. Abror, Guru Besar FUPI Al Makin yang juga bertindak sebagai moderator, serta sosiolog migrasi dari Bielefeld University, Antje Missbach sebagai narasumber utama. Turut hadir Ketua Prodi MSAA Dr. Dian Nur Anna, M.A., Sekretaris Prodi Dr. Siti Khadijah Nurul Aula, jajaran pimpinan fakultas, dosen, serta mahasiswa.


Dalam sambutannya Dekan FUPI, Prof. Robby H. Abror menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa tema migrasi dan agama merupakan isu yang sangat relevan dan kompleks dalam konteks global maupun nasional.

“Tahun lalu saya menulis tentang pengungsi Rohingya di Aceh dan bagaimana dinamika sosial masyarakat mengalami perubahan dari sikap solidaritas menjadi penolakan. Migrasi selalu menghadirkan kisah-kisah menarik, apalagi ketika dikaitkan dengan agama,” ujarnya.

Ia juga menyinggung sosok Fatima Payman, senator Australia berhijab pertama yang merupakan putri seorang pengungsi Afghanistan. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bagaimana identitas agama dan pengalaman migran dapat berkontribusi dalam diskursus demokrasi suatu bangsa.

Prof. Robby berharap forum ini dapat menjadi jembatan komunikasi dan memperkuat kerja sama lintas negara, lintas universitas, dan lintas fakultas, khususnya dalam pengembangan kajian strategis dan isu-isu kontemporer.


Dalam pemaparannya, Antje Missbach menyoroti keterkaitan erat antara migrasi dan agama. Ia menjelaskan bahwa para migran pada umumnya tidak meninggalkan identitas etnis, agama, tradisi, maupun budaya asalnya. Identitas tersebut tetap dipraktikkan, meskipun dalam bentuk dan konteks yang berbeda di negara tujuan.

“Ketika identitas etnis dan agama yang dibawa migran bertemu dengan identitas masyarakat setempat, di situlah sering muncul dinamika, negosiasi, bahkan benturan. Ini menjadi ranah penting dalam kajian sosiologi migrasi,” jelasnya.

Namun demikian, ia juga mengkritisi kecenderungan dalam studi migrasi dan pengungsi yang kerap mengabaikan peran agama. “The fact that Migration Studies and Refugees Studies have ignored the role of religion is not entirely surprising, this trend is widely reflected in the Social Sciences,” ungkapnya.

Ia kemudian memantik diskusi dengan pertanyaan reflektif: “To what extent religious belief and faith-based collective practice provide the underpinnings for humanitarian responses to forced migration and the facilitation of movement?” Pertanyaan tersebut disambut antusias oleh para peserta yang terlibat aktif dalam sesi dialog.

 

Salah satu peserta menyoroti keunikan Indonesia dalam konteks migrasi dan agama. Ia menyampaikan bahwa agama-agama besar yang berkembang di Indonesia pada dasarnya merupakan agama yang datang melalui proses migrasi dan interaksi lintas bangsa, mulai dari Islam, Kristen, hingga Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang keterbukaan terhadap perjumpaan budaya dan agama.

Pada sesi penutup, Missbach memutar film dokumenter tentang perjalanan Muslim Rohingya yang terusir dari tanah kelahirannya dan mengalami krisis identitas di pengungsian. Melalui tayangan tersebut, ia menegaskan pentingnya pendekatan agama dalam memahami migrasi paksa di abad ke-21.

“Addressing these gaps, I claim, might provide us with a more holistic understanding of (forced) migration. As such, I believe, examining migration through the lens of religion remains critical in the twenty-first century, and may even grow in importance as international refugee protection built on supposedly secular and universal humanitarian values comes increasingly under duress,” pungkasnya, yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Ketua Prodi MSAA, Dr. Dian Nur Anna, menyampaikan apresiasi kepada Dekan, para Wakil Dekan, Prof. Al Makin, serta seluruh panitia atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Antje Missbach atas pemaparan yang kaya, reflektif, dan membuka cakrawala akademik.

“Semoga Expert Talk ini tidak hanya menambah wawasan akademik, tetapi juga memperkaya perspektif kemanusiaan kita dalam melihat dinamika Migration and Religion di dunia kontemporer. Kami berharap kegiatan ini menjadi jembatan kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian,” tutupnya.(humassk)