WhatsApp Image 2026-02-18 at 13.47.05.jpeg

Rabu, 18 Februari 2026 13:45:00 WIB

0

Ramadan Reset di UIN Sunan Kalijaga: Ruang Ilmu, Iman, dan Gagasan Publik dalam Satu Napas

Ramadan di lingkungan kampus tak lagi sekadar rangkaian ritual, tetapi menjadi ruang refleksi intelektual dan penguatan spiritual yang berpijak pada realitas sosial. Mengusung tema “Ramadan Reset: Recharge Your Faith and Knowledge,” UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menghadirkan Ramadan bil Jami’ah sebagai gerakan kolektif yang mempertemukan iman, ilmu, dan wacana kebangsaan dalam satu ekosistem akademik yang hidup.

Melalui Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga, rangkaian kegiatan Ramadan tahun ini dirancang sebagai ruang belajar terbuka bagi civitas akademika dan masyarakat luas. Salah satu agenda utama adalah Minutes of Barakah, program kajian harian yang diselenggarakan setiap pukul 14.00 WIB sejak 18 Februari hingga 18 Maret 2026 dan ditayangkan melalui kanal YouTube Kalijaga Insight. Forum ini tidak hanya menghadirkan ceramah keagamaan, tetapi juga diskusi multidisipliner yang membentangkan isu pendidikan, kebudayaan, hukum, ekonomi, hingga etika publik.

Dalam rangkaian kajian tersebut, beragam tokoh nasional, akademisi, serta praktisi berbagi gagasan strategis. Misal, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, mengangkat tema Pembaharuan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia,” serta , Wakil Rektor II, Mochamad Sodik, yang akan membahas dinamika pembaruan pemikiran organisasi keagamaan di Indonesia.

Perspektif keislaman dan kebudayaan turut diperkaya oleh Direktur Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga, M. Yaser Arafat. Semantara itu, dari kalangan pemerintah, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Brian Yuliarto menyoroti pentingnya literasi digital dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menekankan pendidikan sebagai investasi strategis bangsa, sementara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi menghadirkan perspektif kesetaraan gender dalam pengalaman berpuasa.

Ramadan bil Jami’ah juga memberi ruang bagi diskusi etika publik dan tata kelola negara. Tokoh nasional Ganjar Pranowo membahas prinsip etika dalam pengambilan kebijakan publik, sementara pakar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie mengangkat pentingnya budaya hukum dan etika kewargaan. Gagasan ini diperkuat oleh pandangan Mahfud MD mengenai tanggung jawab moral pemimpin dalam negara hukum.

Begitu juga dengan  Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar, Kaprodi Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Gugun El Guyanie, serta Bupati Sleman Harda Kiswaya, yang masing-masing mengangkat tema seputar etika kekuasaan, demokrasi, dan tata kelola pemerintahan dalam perspektif keislaman dan kebangsaan.

Melalui tema-tema tersebut, UIN Sunan Kalijaga menunjukkan peran perguruan tinggi sebagai ruang dialog kritis yang tidak hanya berbicara soal teks keagamaan, tetapi juga realitas sosial, politik, dan budaya yang dihadapi masyarakat.

Kajian sosial dan kebudayaan juga menjadi warna penting Ramadan bil Jami’ah. Berbagai pembicara mengulas peran perempuan dalam isu ekologis, relasi agama dan demokrasi, hingga tata kelola kota konservatif. Di sisi lain, diskusi mengenai filsafat Jawa, tafsir ekologi, adab di era ketidakpastian, serta kesehatan mental berbasis spiritualitas memperluas cakrawala diskusi Ramadan melampaui batas-batas kajian konvensional.

Kehadiran akademisi lintas disiplin memperlihatkan bahwa kampus tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu, tetapi juga laboratorium gagasan yang terus bernegosiasi dengan

Selain kajian ilmiah, Ramadan bil Jami’ah juga diisi dengan kegiatan sosial seperti bakti sosial serta peringatan Nuzulul Quran, yang memperkuat dimensi pengabdian dan empati sosial. Pendekatan ini memperlihatkan upaya UIN Sunan Kalijaga menghadirkan Ramadan sebagai pengalaman menyeluruh, yakni intelektual, spiritual, sekaligus sosial.

Dalam pesannya, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menekankan bahwa Ramadan bil Jami’ah merupakan ruang pembelajaran bersama yang menghubungkan spiritualitas dengan tradisi keilmuan.

“Kami berharap kegiatan ini memberi manfaat nyata, memperkaya perspektif, dan menghadirkan Ramadan yang lebih bermakna bagi seluruh peserta,” ujarnya.

Ramadan bil Jami’ah merefleksikan ikhtiar UIN Sunan Kalijaga menjadikan Ramadan sebagai ruang belajar yang utuh, di mana spiritualitas tidak dipisahkan dari nalar kritis, dan agama yang ditempatkan dalam dialog lintas bidang. Di titik ini, Ramadan bukan hanya dirayakan, tetapi juga dipikirkan dan dimaknai bersama.(humassk)