WhatsApp Image 2026-03-04 at 14.21.18.jpeg

Senin, 02 Maret 2026 14:22:00 WIB

0

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Tanam 500 Mangrove di Pantai Baros, Gerakan Kolaboratif Jaga Pesisir

Tidak sedikit orang yang mengaku mencintai laut, namun setiap orang mengekspresikan rasa cinta itu dengan cara yang berbeda. Salah satu bentuk cinta yang paling nyata adalah dengan menjaga keberlanjutan ekosistemnya. Menanam mangrove menjadi salah satu cara sederhana namun bermakna untuk merawat pesisir dan memastikan laut tetap lestari bagi generasi mendatang.

Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Al Hazmi Fakhrul Alim, turut ambil bagian dalam gerakan menjaga ekosistem laut bertajuk “Sagara Lestari: Sejuta Mangrove untuk Pesisir Bumi” yang digelar pada Sabtu (28/2/2026). Bersama lebih dari seratus relawan dan penggerak lingkungan, ia menanam 500 bibit mangrove di kawasan konservasi Pantai Baros, Bantul.


Penanaman ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan alami pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut dari ancaman abrasi dan kerusakan lingkungan. Mangrove juga berfungsi sebagai habitat alami berbagai biota laut, terutama ikan, yang penting bagi keberlanjutan sumber pangan masyarakat pesisir.

Hazmi yang juga dikenal sebagai Putra Bahari Indonesia 2025 sekaligus Founder Mangrove Revolution and Education (Mangrovolution, menegaskan bahwa upaya pelestarian lingkungan pesisir tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurutnya, keberhasilan menjaga ekosistem laut sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak, mulai dari komunitas, pemerintah, akademisi, hingga generasi muda.

Sebagai representasi anak muda yang peduli pada lingkungan, Hazmi membuktikan bahwa kecintaannya terhadap laut tidak berhenti pada simbol atau gelar semata. Sejak terpilih sebagai Putra Bahari Indonesia 2025, ia aktif menginisiasi berbagai gerakan pelestarian lingkungan. Salah satunya melalui kegiatan penanaman mangrove ini yang digagas bersama Pusat SDGs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo.


“Pelestarian pesisir tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi menjadi kunci agar gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu memberi dampak berkelanjutan bagi lingkungan,” ujarnya.

Gerakan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., yang hadir membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang digerakkan oleh generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Ia menegaskan bahwa DPRD DIY berkomitmen untuk terus mendukung berbagai aksi kolaboratif yang berorientasi pada pelestarian pesisir di Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurutnya, gerakan seperti ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran ekologis masyarakat secara berkelanjutan.

Selain penanaman mangrove, kegiatan ini juga menghadirkan sesi edukasi lingkungan yang melibatkan Putri Bahari Indonesia 2025 bersama Finalis Duta Gemarikan DIY 2026. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya gerakan Gemar Makan Ikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Ia menegaskan, bahwa hutan mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, salah satunya sebagai habitat alami berbagai jenis ikan dan biota laut. Dengan menjaga kelestarian mangrove, masyarakat secara tidak langsung turut menjaga keberlanjutan sumber pangan yang bernilai gizi tinggi.

Setelah sesi edukasi, para peserta bergerak menuju kawasan konservasi untuk melakukan penanaman mangrove secara serempak.  Dengan tertanamnya ratusan bibit mangrove baru ini, Pantai Baros diharapkan semakin berkembang sebagai benteng hijau pesisir yang mampu melindungi daratan dari abrasi, sekaligus menjadi ruang pembelajaran ekologis bagi masyarakat dan generasi muda.

Kiprah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dalam gerakan ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi tempat lahirnya inisiatif yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Melalui kolaborasi lintas sektor, aksi kecil seperti menanam mangrove hari ini dapat menjadi investasi ekologis penting bagi masa depan pesisir Indonesia.(humassk)