WhatsApp Image 2026-10-06 at 18.08.28(1).jpeg

Selasa, 06 Oktober 2026 17:50:00 WIB

0

PGMI FITK UIN Sunan Kalijaga Bawa Gagasan Pendidikan Dasar ke Forum Akademik Internasional di IIUM Malaysia

Menjadi calon guru sekolah dasar di tengah dunia pendidikan yang semakin terhubung menuntut mahasiswa tidak berhenti pada pengalaman belajar di ruang kelas. Mereka perlu berhadapan langsung dengan lingkungan akademik yang berbeda, menguji gagasan bersama mahasiswa dari negara lain, sekaligus belajar berkomunikasi lintas budaya.


Pengalaman tersebut diperoleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui International Student Academic Experience (ISAE) 2026 di International Islamic University Malaysia (IIUM), Selasa (6/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PGMI tidak sekadar mengikuti kunjungan akademik. Mereka membawa hasil kajian tentang berbagai persoalan pendidikan dasar untuk dipresentasikan dalam forum International Paper Presentation bersama mahasiswa IIUM. Kehadiran mereka disambut langsung oleh Prof. Dr. Suhailah Hussien, Dekan Fakultas Pendidikan International Islamic University Malaysia (IIUM), dalam rangkaian perjumpaan akademik tersebut.


Sebanyak enam pasangan mahasiswa PGMI kemudian tampil mempresentasikan karya mereka. Mereka terdiri atas Okta Vitriani dan Hayati Azizah; Siti Fatimah Azzahro dan Alya Raihan; Nashhatu Karimah Alfya dan Laili Umu Hamidah; Adi Suryadi dan Galuh Kaninahapsari; Najwa Nabila Ashar dan Salisa Nur Muyasaroh; serta Hanifatul Munawaroh dan Magfiratunnafisa.

Topiknya beragam, mulai dari pemahaman bangun datar dan disposisi matematis, psikoedukasi dan perkembangan sosial-emosional anak, keterampilan motorik kinestetik siswa kelas II, perkembangan kognitif siswa berkemampuan di atas rata-rata, regulasi emosi siswa yang berkaitan dengan penggunaan gawai dan pengalaman perundungan, hingga distraksi sosial dan persistensi tugas pada siswa kelas rendah.


Bagi mahasiswa PGMI, forum tersebut memberi pengalaman yang berbeda dari presentasi akademik di lingkungan kampus sendiri. Mereka dituntut menyampaikan gagasan secara sistematis, berkomunikasi dalam forum internasional, serta membuka ruang dialog terhadap perspektif dari lingkungan akademik yang berbeda.

Kaprodi S1 PGMI FITK UIN Sunan Kalijaga, Dr. Luluk Mauluah, mengatakan ISAE juga dirancang sebagai ruang perjumpaan mahasiswa dengan budaya yang berbeda. Dalam rangkaian kegiatan, mahasiswa PGMI menampilkan sejumlah kesenian Indonesia, di antaranya Tari Kreasi Nusantara Timur, Tari Dayak, dan Tari Sinanggar Tulo.


Menurutnya, pertukaran budaya menjadi bagian penting dari pengalaman mahasiswa di lingkungan internasional. “Mahasiswa tidak hanya membawa identitas akademik, tetapi juga budaya Indonesia. Ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda,” ujarnya.

Pengalaman akademik dan budaya itu berjalan beriringan. Melalui paper presentation, mahasiswa belajar membawa persoalan pendidikan dasar ke dalam percakapan akademik yang lebih luas. Sementara melalui pertukaran budaya, mereka belajar bahwa interaksi lintas negara tidak semata-mata dibangun melalui bahasa akademik, tetapi juga melalui kemampuan memahami dan menghargai perbedaan.


Dua dosen PGMI FITK UIN Sunan Kalijaga, Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I. dan Dr. Endang Sulistyowati, M.Pd.I., turut mendampingi mahasiswa selama rangkaian kegiatan.

ISAE 2026 dengan demikian menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa PGMI yang berlangsung melampaui batas ruang kelas. Mahasiswa berhadapan langsung dengan forum akademik internasional, bertemu dengan mahasiswa dari lingkungan pendidikan yang berbeda, sekaligus belajar membawa persoalan pendidikan dasar Indonesia ke ruang percakapan yang lebih luas.

Bagi PGMI UIN Sunan Kalijaga, pengalaman semacam ini memberi dimensi lain untuk seorang calon guru sekolah dasar, yakni kemampuan mengajar tidak cukup dibangun melalui penguasaan materi dan metodologi, tetapi juga melalui keluasan perspektif, keberanian menyampaikan gagasan, kemampuan beradaptasi, serta kecakapan berinteraksi di tengah masyarakat yang semakin terhubung.(hunassk)