Refleksi Tarbialogi
Artikel ini bukan ditulis untuk membantah pandangan siapa pun, melainkan untuk meneguhkan satu prinsip mendasar yang menjadi fondasi berdirinya organisasi, menjaga keberlangsungannya, dan menopang pembangunan peradaban. Prinsip itu justru paling dibutuhkan ketika krisis datang dan perbedaan pendapat mengancam keutuhan sebuah lembaga.
Dalam setiap organisasi besar, selalu ada masa ketika badai menerpa. Krisis kepemimpinan, perbedaan strategi, hingga konflik internal sering kali memunculkan pertanyaan yang sama: apakah jalan keluar terletak pada meninggalkan aturan organisasi demi kebebasan yang lebih luas, atau justru pada berpegang teguh kepada aturan yang telah disepakati bersama?
Sekilas, pertanyaan itu tampak sebagai pertentangan antara musyawarah dan organisasi, antara kebebasan dan disiplin. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa keduanya bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Musyawarah hanya dapat berjalan secara sehat di dalam sebuah sistem yang jelas, sementara sistem organisasi hanya akan hidup apabila dibangun di atas semangat musyawarah.
Karena itu, disiplin kelembagaan bukanlah lawan dari demokrasi internal, melainkan instrumen yang menjamin demokrasi tersebut berjalan secara tertib, adil, dan bertanggung jawab.
Perlu dibedakan secara tegas antara mengkultuskan aturan dengan menghormati aturan. Tidak ada organisasi yang menganggap anggaran dasar dan peraturan internal sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh diubah. Namun, pada saat yang sama, tidak ada organisasi yang dapat bertahan apabila setiap kali menghadapi krisis, aturan bersama justru diabaikan.
Aturan organisasi pada hakikatnya adalah kontrak bersama. Ia menjadi pedoman untuk mengelola perbedaan pendapat, mengatur mekanisme pengambilan keputusan, serta menjaga agar legitimasi kepemimpinan tidak bergantung pada penafsiran pribadi atau kekuatan individu.
Sejarah membuktikan bahwa organisasi yang bertahan lama bukanlah organisasi yang memiliki anggota paling cerdas atau paling bersemangat. Yang membuat sebuah organisasi mampu bertahan adalah kemampuannya membangun institusi yang kuat. Perusahaan-perusahaan besar, universitas ternama, lembaga negara, maupun organisasi sosial yang mapan semuanya memiliki satu kesamaan: pergantian pemimpin tidak menggoyahkan sistem, karena yang menjadi sumber legitimasi bukanlah orangnya, melainkan aturan yang disepakati bersama.
Prinsip yang sama juga dapat menjadi salah satu sudut pandang dalam membaca perjalanan Ikhwanul Muslimin. Terlepas dari beragam penilaian terhadap sikap dan pilihan politiknya, sulit dipungkiri bahwa kemampuan organisasi tersebut bertahan melewati berbagai tekanan selama puluhan tahun tidak hanya disebabkan oleh semangat anggotanya, tetapi juga oleh adanya struktur kelembagaan yang memungkinkan organisasi tetap berjalan di tengah situasi yang sangat berat.
Pembahasan ini bukan dimaksudkan untuk memastikan bagaimana mekanisme internal organisasi dijalankan pada setiap fase sejarahnya. Hal itu tentu hanya diketahui oleh mereka yang berada di dalam lingkaran pengambilan keputusan. Yang ingin ditegaskan hanyalah sebuah prinsip manajemen yang berlaku universal: organisasi yang kuat akan menyesuaikan cara kerjanya sesuai perubahan keadaan tanpa kehilangan sistem dan rujukan kelembagaannya.
Sarana dapat berubah, tetapi prinsip tetap dipertahankan. Pertemuan dapat berpindah dari ruang terbuka ke ruang tertutup, dari tatap muka ke media komunikasi lain, dan pembagian kewenangan dapat disesuaikan dengan tuntutan situasi. Semua itu merupakan perubahan metode, bukan pembatalan terhadap institusi.
Di sinilah letak perbedaan antara disiplin dan kekakuan. Kekakuan adalah mempertahankan cara lama meskipun sudah tidak lagi efektif. Sebaliknya, disiplin berarti tetap berpegang pada prinsip dan aturan bersama, sambil terus membuka ruang pembaruan terhadap cara dan mekanisme pelaksanaannya.
Organisasi yang panjang usianya bukanlah organisasi yang tidak pernah berubah ataupun yang mengubah segalanya. Ia adalah organisasi yang mampu membedakan mana prinsip yang harus dipertahankan dan mana metode yang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Begitu pula dalam menghadapi konflik. Sejarah tidak mencatat organisasi besar karena bebas dari perbedaan pendapat. Yang membuatnya bertahan adalah kemampuannya mengelola perbedaan melalui mekanisme yang telah disepakati. Ketika rujukan bersama tetap dihormati, konflik dapat diselesaikan. Sebaliknya, ketika setiap kelompok merasa berhak menentukan legitimasi menurut versinya sendiri, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan eksistensi organisasi itu sendiri.
Oleh sebab itu, pembaruan kelembagaan tidak dilakukan dengan membuang aturan, tetapi dengan memperbaikinya melalui mekanisme yang telah disepakati. Reformasi yang lahir dari dalam institusi akan memperkuat organisasi, sedangkan perubahan yang mengabaikan institusi justru berpotensi melahirkan fragmentasi yang berkepanjangan.
Pada akhirnya, organisasi tidak bertahan karena para pemimpinnya tidak pernah salah. Organisasi bertahan karena memiliki sistem yang memungkinkan kesalahan diperbaiki tanpa meruntuhkan fondasi kelembagaannya. Disiplin kelembagaan bukanlah belenggu bagi musyawarah, melainkan penjaganya. Ia bukan penghalang pembaruan, tetapi kerangka yang membuat pembaruan berlangsung secara tertib dan berkelanjutan.
Karena itu, pada masa-masa penuh ujian, para pemimpin dan anggota organisasi hendaknya menyadari bahwa menjaga komitmen terhadap mekanisme kelembagaan merupakan bagian dari menjaga amanah yang lebih besar. Persoalan organisasi tidak semestinya diselesaikan melalui ruang-ruang media sosial yang sarat prasangka dan emosi sesaat, melainkan melalui forum-forum yang memiliki otoritas, tanggung jawab, dan pemahaman yang memadai.
Peradaban dibangun bukan oleh tokoh-tokoh yang datang dan pergi, melainkan oleh institusi yang mampu menjaga nilai, mengelola perbedaan, memperbaiki diri, dan tetap setia kepada prinsip-prinsip yang menjadi fondasi keberadaannya. Di sanalah letak makna sejati disiplin kelembagaan: menjaga agar risalah tetap hidup, meskipun wajah-wajah yang memikulnya terus berganti.
*Guru Besar FITK UIN Sunan Kalijaga