UIN Sunan Kalijaga Kehilangan Putra Terbaiknya, Dr. Budi Ruhiatudin, SH., M. Hum.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kehilangan putra terbaiknya, Dr. Budi Ruhiatudin, SH. M. Hum. Dosen yang baik hati dan ramah ini menghembuskan nafas terakhir dalam usia 48 tahun karena sakit, Senin, 12/10/2020. Bapak tiga putra/putri Yasmina Mutaffattiha Budian, Queen Nadeesa Fitria Muntaz, dan Moch. Riady Rizky Firdaus, dari istri Nisa Khoiriyah ini telah mengabdi sebagai Dosen Fakultas Syari’ah dan hukum selama 20 tahun sejak 18/7/2000. Dan saat ini telah menduduki jabatan Lektor Kepala, mengajar untuk mata kuliah Hukum Perdata. Budi Ruhiatudin juga masih menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawas Internal, sebagai tugas tambahan di kampus UIN Sunan Kalijaga.

Almarhum Pak Budi dimakamkan di pemakaman umum Tanjung Donoharjo, Ngaglik, Sleman, berangkat dari rumah duka Jl. Palagan Tentara Pelajar No. 67, km. 11, Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Selasa, 13/10/2020.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin saat memberikan sambutannya pada upacara pelepasan jenazah di rumah duka antara lain menyampaikan, Dr. Budi Ruhiatudin, SH M.Hum., adalah rekan terbaik. Beliau pergi lebih cepat karena dicintai Allah SWT sebagai orang yang baik. Pihaknya berharap UIN Sunan Kalijaga bisa melepaskan dan mengikhlaskan beliau dengan senyum. Rektor pun beruntung dapat mengenal, menjadi keluarga, dipimpin, dinasehati, diajak berkawan dengan beliau Pak Dr. Budi.

Kepada anggota keluarga, Istri Ibu Nisa Khoiriyah, anak Yasmina Mutafatiha Budiani, Queen Nadeesa Fitria Mumtaz, dan Muhammad Riody Rizki Firdaus, Rektor juga menyampaikan doa terbaiknya untuk keikhlasan, ketabahan dan kesabaran mereka.

“Pak Budi orang baik, ikhlas, tawadu, ramah, pekerja keras, jaringan dan perkawanan yang luas, tulus dalam membantu, dan komitmen yang tinggi,” kata Prof. Al Makin.

UIN Sunan Kalijaga kehilangan, kehilangan rem utama dalam melaju cepat, karena Pak Budi penasehat hukum kita semua, penghubung kita semua ke Itjend, BPK, para advokat, para hakim, dan semua keselamatan dan hukum aturan yang berlaku, Pak Budi pemegang rem, penjaga gawang, penasehat. Pak Budi orang inti, perancang semua aturan, perubahan dan reformasi yang akan kita raih. Saya mendapat anugerah dan bersyukur mendapat kesempatan mengenal Pak Budi, saya bersyukur, saya berusaha ikhlas, walau berat, imbuh Prof. Al Makin.

Lima tahun yang lalu saya mendapat kesempatan mengenal hamba kesayangan Allah ini. Saya duduk di LP2M setiap pagi, Pak Budi menyambangi kantor saya. Saya ke kantor beliau, juga beliau sambut. Persoalan aturan, hukum, regulasi, yang terkait dengan LP2M, Itjend, BPK, bendahara, dan aturan keuangan beliau selalu siap memberi nasehat, dan langkah apa sebaiknya. Semua dosen, peneliti, pengabdi di UIN berhutang pada penyelamatan Pak Budi di hadapan hukum. Bagaimana menyusun laporan keuangan sesuai aturan. Pak Budi bolak-balik ke Jakarta Yogya untuk upaya penyelamatan sesuai aturan. Perhatiannya luas, orangnya luwes, tidak pernah marah, selalu senyum. Kerjanya ikhlas. Allah tempatkan Pak Budi di sisi-Mu yang termulia.

Setiap saya minta tolong, Pak Budi dengan senyum khasnya tidak pernah menolak. Bahkan kadang sukarela datang ke LP2M. Setelah saya diberi amanah menjadi Rektor pun, Pak Budi tetap pengawal dan penasehat setia saya, Pak Budi tidak pernah melepas saya.

Ketika Pak Budi sakit saya tidak percaya. Saya kirim doa. Beliau senang. Saya baca al-Mulk belum tamat, karena ada juga yang harus saya doakan, saya tunda. Dua kali saya kirim doa surah al-Mulk. Tuhan Allah Maha kuasa, memilih Pak Budi. Kita semua harus ikhlas. Ikhlaskanlah Allah Maha Tahu rencana-Nya sendiri. Semua mendoakan agar Pak Budi mendapat tempat termulia di sisi-Nya, demikian Prof. Al Makin mengakhiri sambutannya.

Selamat Jalan Pak Budi, Insya allah semua amal kebaikan Pak Budi dalam mengembangkan dunia pendidikan, organisasi dan kemasyarakatan akan menempatkan Pak Budi di sisi-Nya yang termulia, Aamiin Ya Rabbal Alamiin. (Weni)