Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar mendorong
perguruan tinggi Islam mengambil peran lebih besar dalam membangun ekosistem
halal yang tidak hanya bertumpu pada sertifikasi produk, tetapi juga menyentuh
dimensi moral, intelektual, dan spiritual.
Pesan
itu disampaikan Nasaruddin saat menjadi pembicara kunci dalam Forum Ekonomi
Regional Jawa 2026 bertema “Penguatan
Ekosistem Halal untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan
Berkelanjutan” di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis
(4/6/2026).
Forum
tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa
Tengah yang diwakili Kepala Biro Perekonomian Setda Jawa Tengah Drs. Johan
Hadiyanto, M.Si., Gubernur DIY yang diwakili Staf Ahli Bidang Perekonomian dan
Pembangunan Drs. Noviar Rahmad, M.Si., Rektor UIN Sunan Kalijaga
Prof. Noorhaidi Hasan, jajaran wakil rektor, dekan, direktur, narasumber
konferensi, pelaku industri halal, akademisi, serta pegiat ekonomi syariah.
Nasaruddin
mengatakan, konsep halal dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari dua unsur
lain, yakni thayyiban dan mubarakan. Menurut dia, halal tidak
boleh dipahami hanya sebagai persoalan fikih atau legalitas produk, tetapi
sebagai sistem nilai yang membentuk kualitas hidup manusia.
“Tidak
semua yang halal itu thayyib. Tidak
semua yang halal dan thayyib itu mubarak. Karena itu ketiganya harus
hadir secara bersamaan,” ujarnya.
Ia
menambahkan, ekosistem halal selama ini masih cenderung dipahami dalam kerangka
fisik, seperti makanan dan produk konsumsi. Padahal, kata dia, manusia juga
mengonsumsi hal-hal nonfisik, termasuk ilmu pengetahuan, bacaan, dan
nilai-nilai yang membentuk cara berpikir.
Karena
itu, Nasaruddin berharap UIN Sunan Kalijaga menjadi pelopor dalam membangun
budaya halal yang lebih substantif. “Dari kampus inilah perubahan besar itu
dapat dimulai,” katanya.
Rektor
UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan mengatakan penguatan ekonomi
syariah menjadi penting di tengah dunia yang sedang menghadapi ketidakpastian
global, mulai dari perlambatan ekonomi, konflik geopolitik, krisis energi,
disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga ketimpangan sosial.
Menurut
Noorhaidi, ekonomi syariah tidak lahir semata sebagai sistem transaksi atau
instrumen keuangan alternatif, melainkan sebagai visi peradaban yang
menempatkan keadilan, keseimbangan, keberlanjutan, dan kemaslahatan sebagai
fondasi pembangunan ekonomi.
“Ekonomi
syariah harus menjadi instrumen transformasi sosial yang mampu memperkuat
kesejahteraan masyarakat, memberdayakan kelompok rentan, dan membangun
ketahanan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Sementara
itu, Founder dan CEO Kabar Group
Indonesia Upi Asmaradhana mengatakan Forum Ekonomi Regional digagas sejak 2025
sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat kontribusi media dan masyarakat bagi
pembangunan nasional. Forum ini telah digelar di sejumlah kota, termasuk
Jakarta, Pontianak, dan Yogyakarta.
Upi
mengatakan Yogyakarta dipilih karena memiliki kekuatan akademik, budaya, dan
sejarah panjang sebagai pusat pendidikan. Ia menilai UIN Sunan Kalijaga,
sebagai salah satu perguruan tinggi Islam negeri tertua, memiliki posisi
strategis dalam memperluas gagasan ekonomi syariah dan ekosistem halal.
“Dari
Yogyakarta, kita ingin menyebarluaskan ekosistem halal, ekonomi syariah, dan
potensi dunia Islam yang sesungguhnya sangat besar,” katanya.
Forum
ini diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah, kampus, industri, media, dan
masyarakat dalam membangun ekosistem halal yang komprehensif, inklusif, dan
berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia menuju pusat ekonomi
syariah dan industri halal dunia. (humassk)